Hati Sekeras Batu

Sore itu aku duduk bersandar pada salah satu bangku di pinggiran jalan yang kelihatan mulai pudar warnanya. Disekelilingku ratusan orang mungkin sedang lalu lalang dengan dirinya masing – masing.

Ini jam pulang kantor, langit senja memerah dan muadzin sedang bersiap mengumandangkan adzan maghrib di masjid.

Aku kali ini melamun. Pandanganku tertuju di lampu merah yang tak jauh dari bangku yang kududuki. Saat itu lampu lalu lintas baru saja berubah menjadi merah. Beberapa orang yang sebelumnya berada di pinggir jalan langsung bergerak ke tengah. Ada yang hanya sekedar menyeberang, namun beberapa orang yang menarik perhatianku adalah mereka yang justru bergerak ke arah kendaraan yang sedang berhenti.

Mereka membawa barang – barang berbeda, ada koran yang pasti semakin sulit laku di zaman online saat ini. Ada yang membawa parfum kopi, mainan anak dan lainnya. Mataku terpaut pada seorang anak kecil yang membawa sebuah krencengan di tangannya. Ia menyanyi dari satu jendela ke mobil lainnya. Menyanyikan lagu dewasa yang jauh diatas umurnya dengan suara khas berbeda nada.

Kali ini hanya ada 2 mobil yang membuka jendelanya. Ia merengut, memandang uang yang ada di genggamannya hanya beberapa lembar.

Usianya pasti tak lebih dari lima tahun taksirku, namun dunia sepertinya sedang tak ramah padanya.

Aku teringat saat aku lima tahun, aku hanya memikirkan permainan apa yang akan kumainkan dengan teman – teman disekitar rumah. Paling berat mungkin hanya karena aku sebentar lagi masuk sekolah. Aku tak perlu khawatir akan makan apa, tidur dimana dan apakah akan ada yang merangkulku saat aku menangis.

Aku malu, teringat diri yang masih saja sombong dan jarang bersyukur atas karunia yang telah kudapat.

Aku marah, pada diri yang masih mengeluh hanya karena hal sepele tak mengancam nyawa.

Aku resah, karena belum mampu berkontribusi untuk membantu mereka.

Aku sebal, pada keegoisan dan keacuhan.

Aku terharudengan kegigihan dan persistensi mereka dalam berjuang.

Oh Tuhan, tolong lunakkan hati yang sekeras batu ini, untuk terus bersyukur dan peduli..

Leave a Reply

Your email address will not be published.